Sabtu, 27 Oktober 2012

LIVING STUDENT Aktivis Mahasiswa Yang Ideal



“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” Begitu salah satu kutipan dalam sebuah poster film berjudul Gie yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Gie, yang dimaksud dalam film ini adalah Soe Hok Gie, seorang mahasiswa idealis yang tulisan-tulisan kritisnya biasa dimuat di Kompas. Catatan Seorang Demonstran, yang berisi catatan harian Gie turut berpengaruh sampai sekarang—setidaknya di kalangan aktivis gerakan mahasiswa.

Kiprah mahasiswa sejak lama sudah ada. Dari luar negeri ada Perhimpunan Indonesia. Di dalam negeri ada kelompok Budi Utomo. Dalam perkembangannya, berbagai elemen berdiri (baik yang nasionalis atau berbasiskan agama). Pada Reformasi 98, gerakan mahasiswa menemukan momentumnya lagi (pasca 1966) untuk berkonsolidasi. Kekuasaan Orde Baru diruntuhkan yang dimotori oleh gerakan mahasiswa dengan berbagai elemen rakyat. Namun pasca Reformasi, tampaknya mahasiswa menjadi “kehilangan arah” hingga saat ini. Pada akhirnya, gerakan mahasiswa lebih berfokus pada isu-isu lokal kampus atau daerahnya.
Bagaimana gambaran ideal seorang aktivis mahasiswa? Dulu performa mahasiswa digambarkan sebagai berikut: buku, pesta, dan cinta. Seorang aktivis digambarkan sebagai mahasiswa yang suka membaca buku, mendiskusikan, atau bahkan mengkritiknya.  Begitu juga pesta tidak ketinggalan. Cinta juga begitu. Seorang aktivis tidak lengkap saat itu kalau tidak bergelut dengan dunia buku, pesta, dan cinta. Namun, sejenak kita berpikir: apakah itu gambaran ideal seorang aktivis? Rasanya tidak juga. Lantas, bagaimana gambaran idealnya?
Setidaknya, mahasiswa ideal saat ini tidak bisa kita pisahkan dengan tiga hal, yaitu buku, berorganisasi dan kemandirian. Ketiga hal ini memiliki pengaruh yang besar bagi seorang mahasiswa. Mereka yang rajin membaca, pastinya akan tercerahkan pemikirannya, dan logis. Mereka yang berorganisasi juga akan terbangun jiwa kepemimpinannya, begitu juga relasinya akan bertambah banyak. Dan, mereka yang mencoba hidup mandiri akan lebih terbangun sikap positif, percaya diri dan ini berpengaruh banyak kelak ketika mereka sudah tamat.
Pertama, Buku. Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang berkawan dengan buku. Sebuah pepatah mengatakan, “sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku.” Ya, dengan buku seseorang dapat menjamah dunia yang jauh secara geografis. Wawasannya akan luas. Kalau ia berkomentar dalam sebuah forum, komentarnya lebih berisi, tidak “lari ke sana ke mari.” Itu karena pemikirannya telah terstruktur, dan logis.
Kedua, Organisasi. Orang sosiologi menyebut manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, kehadiran manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan dari manusia lainnya. Maka manusia membutuhkan kawan. Organisasi adalah wadah untuk bersosialisasi, atau wadah untuk mengembangkan keterampilan. Para pemimpin di tingkatan yang lebih umumnya aktif dalam organisasi. Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa ini mutlak perlu berorganisasi.
Ketiga, Mandiri. Mau tak mau, semua manusia akan hidup sendiri. Setidaknya akan berpisah dari orang tuanya. Maka mau tak mau ia perlu menumbuhkan sikap mandiri. Program kewirausahaan mahasiswa baik sekali untuk dipraktekkan. Problemnya saat ini banyak aktivis mahasiswa yang malas untuk berusaha. Mereka tidak berjiwa entrepreneur. Lebih suka mencari beasiswa ketimbang berpikir bagaimana memanfaatkan waktu kosongnya untuk mendapatkan laba dari keringatnya sendiri. Mendapatkan beasiswa itu baik, namun jiwa petarung yang siap untuk mandiri juga perlu ditumbuhkan sejak mahasiswa.
Ketiga hal di atas jika dipraktekkan dengan baik, bolehlah kita sebut sebagai “living student” atau mahasiwa yang benar-benar hidup. Atau sebenar-benar mahasiswa. Bagaimana dengan mahasiswa kita saat ini?
HIDUP MAHASISWA !!!
HIDUP RAKYAT !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar